Beberapa waktu yang lalu, muncul sebuah artikel yang menyatakan bahwa lima tahun lagi generasi milenial terancam tidak mampu membeli rumah. Hal tersebut disebabkan oleh tidak imbangnya antara pendapatan dan kenaikan gaji normal dengan melonjaknya harga rumah beberapa tahun ke depan.

sewa rumah

Oleh sebab itu tidak heran jika kita menjumpai pasangan-pasangan muda yang menyewa atau mengontrak rumah karena tidak mampu mencicil properti, baik rumah maupun apartemen. Namun, ada alasan orang lebih suka sewa rumah ketimbang apartemen. Basarm.net kali ini akan memberikan bocoran infonya, Yuk, telusuri alasan-alasannya!

Menyewa apartemen dibatasi oleh periode hak guna bangunan

Kepemilikan apartemen umumnya berbatas waktu. Apartemen didirikan di atas tanah yang bukan milik sendiri, namun milik pengembang apartemen. Saat membeli apartemen, pemilik apartemen hanya mendapatkan hak guna bangunan yang memiliki jangka waktu 30 tahun, dan bisa diperpanjang dengan jangka waktu paling lama 20 tahun.

Jika hak guna bangunan dari apartemen yang dimiliki pemilik apartemen habis, atau ketika pengembang memutuskan untuk meruntuhkan apartemen, penyewa apartemen tersebut pun harus hengkang dari tempat tinggal sementaranya.

Berbeda dengan menyewa rumah. Selama pemilik rumah mengizinkan, Anda bisa menyewa rumah selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh tahun lamanya. Asalkan hubungan Anda dengan pemilik rumah baik, pasti akan diizinkan untuk menyewa rumahnya dalam waktu lama.

Rumah umumnya memiliki lahan terbuka atau halaman yang cukup luas

Salah satu kelemahan apartemen adalah tidak adanya lahan terbuka yang bisa digunakan untuk garasi, tempat menanam, atau lahan bermain anak. Di apartemen, lahan parkir terbatas oleh fasilitas parkir gedung.

Umumnya penghuni gedung apartemen hanya mendapat jatah satu kendaraan. Sementara jika menyewa rumah yang memiliki halaman, Anda bisa memarkir kendaraan dengan lebih bebas. Jika ada lahan kosong pun bisa digunakan untuk menanam tanaman sehingga rumah bisa terlihat lebih asri. Selain itu, pekarangan bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk bersantai bersama keluarga dan tempat bermain anak jika bosan terkurung di dalam rumah sepanjang waktu.

Bebas biaya pemeliharaan gedung

Saat menyewa rumah, penyewa rumah memang akan direpotkan dengan kewajiban membayar listrik atau air sendiri. Namun, terkadang biaya tersebut masih lebih murah dibandingkan dengan biaya pemeliharaan gedung dan biaya lain-lain yang harus dibayarkan penyewa apartemen kepada pengelola gedung.

Pengelolaan apartemen tidak seperti rumah biasa, yang bisa diurus sendiri. Pengelolaan apartemen lebih kompleks karena menyangkut pemeliharaan, kebersihan, serta keamanan gedung, termasuk untuk menggaji tenaga pengelola.

Service charge adalah biaya pemeliharaan gedung. Untuk unit apartemen menengah ke bawah, service charge berkisar Rp10.000,00-15.000,00 per meter persegi. Sementara biaya sinking fund, yaitu biaya untuk pemeliharaan elevator, genset, saluran, dll, akan semakin besar jika usia apartemen semakin tua. Hal inilah yang seringkali menjadi alasan orang lebih suka sewa rumah ketimbang apartemen.

Biaya listrik yang harus dibayarkan pemilik atau penyewa apartemen umumnya lebih mahal 20-30% dari tarif dasar PLN. Di apartemen di tengah kota Jakarta, tarif listrik apartemen dengan dua kamar berkisar antara Rp250.000,00–400.000,00 per bulan, bergantung pada pemakaian alat-alat elektronik, terutama AC.

Biaya pemakaian air pun harusnya mengikuti tarif PDAM. Namun, seringkali tarif yang harus dibayar pemilik atau penyewa gedung lebih tinggi. Untuk rumah susun sederhana di Jakarta, tarif air mulai dari Rp3.500,00/m3 (untuk pemakaian 0–10 m3) hingga Rp5.500,00/m3 (untuk pemakaian lebih dari 20 m3).

Selain komponen biaya umum, pemilik atau penyewa apartemen juga harus membayar iuran yang biasanya sudah ditetapkan perhimpunan penghuni satuan rumah susun (PPSRS). Pemilik apartemen juga harus membayar biaya parker yang dihitung berdasarkan rasio parkir. Biaya parkir mobil di apartemen dengan rasio parkir 1:5 berkisar Rp100.000,00-200.000,00 per bulan dan untuk motor Rp25.000,00–100.000,00 per bulan.

Memang mengurus rumah membutuhkan tenaga ekstra untuk membersihkannya. Namun, hal ini sangat menghemat anggaran rumah tangga dibandingkan harus membayar biaya-biaya tambahan seperti jika tinggal di apartemen.

Tinggal di rumah memungkinkan penghuninya kenal dan bersosialisasi dengan tetangga

Umumnya penghuni apartemen lebih individualistis. Seringkali penghuni apartemen tidak mengetahui siapa yang tinggal di apartemen sebelahnya. Karakter individualistis ini terkadang merugikan. Kita sering mendengar kasus-kasus pembunuhan di mana jenazah baru diketahui setelah beberapa lama karena tidak ada tetangganya yang mengenali apakah penghuni apartemen yang bersangkutan ada di tempat atau tidak.

Tidak ada yang peduli dan berusaha mengusik karena prinsip individualistis tersebut. Karakter yang ‘tidak ingin mencampuri urusan orang‘ atau lebih ke arah tidak peduli tersebutlah yang membuat penghuni apartemen terkadang menjadi sasaran kejahatan oleh orang yang tidak dikenal.

Sementara jika tinggal di rumah, penghuni rumah bisa berinteraksi dengan tetangga yang ada di sekitar. Seperti yang sudah diketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Hidup bertetangga memungkinkan Anda untuk saling membantu jika membutuhkan dan mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, seperti karang taruna, kegiatan PKK, atau posyandu yang pasti akan bermanfaat untuk keluarga Anda.

Aturan dibuat oleh penyewa rumah

Jika tinggal di apartemen, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh para penghuninya. Aturan tersebut umumnya dibuat oleh pengelola gedung. Salah satunya penghuni tidak diperbolehkan memelihara hewan peliharaan. Di lingkungan apartemen terdapat pula aturan tidak tertulis seperti tidak boleh membunyikan musik terlalu keras. Dinding apartemen Anda bersebelahan langsung dengan apartemen orang lain sehingga suara keras bisa terdengar oleh tetangga dan membuat mereka terganggu.

Nilai investasi jangka panjang rumah lebih tinggi dibandingkan apartemen

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kepemilikan apartemen dibatasi oleh periode hak guna bangunan. Selain itu, semakin sedikitnya lahan untuk pemukiman menyebabkan harga tanah semakin mahal. Oleh karena itu, harga jual apartemen yang dijual setelah jangka waktu yang lama akan lebih rendah dibandingkan harga jual rumah yang nilainya justru meningkat.

Jadi, setelah mengetahui alasan orang lebih suka sewa rumah ketimbang apartemen, apakah Anda masih tertarik untuk menyewa apartemen? Seperti halnya saat mencari rumah yang membutuhkan kecocokan, menyewa apartemen pun butuh pertimbangan. Pastikan Anda menyewa apartemen yang paling sesuai dan menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk keluarga, ya!

Bagikan